The story of Sugiyanto, an Indonesian fisherman in South Korea..
Guys, kamu mungkin udah denger soal berita kebakaran hutan di Korea Selatan beberapa minggu lalu? Di balik cerita soal meluasnya kobaran api yang membakar hutan-hutan di bagian tenggara Korea Selatan, ditemukan heartwarming story yang melibatkan WNI yang jadi hero bagi para lansia yang ada di sebuah desa pesisir di Chuksan-myeon, Kabupaten Yeongdeok, Gyeongsang Utara.
Tell me about it.
OK. Jadi ketika kebakaran hutan meluas dari Uiseong sampai ke wilayah Yeongdeok-gun, Sugiyanto (31) yang sudah sewindu bekerja sebagai nelayan di Korea Selatan berubah jadi pahlawan buat warga desa tempatnya tinggal. Melihat bahaya yang mengancam para penduduk desa, Sugiyanto berkeliling bersama kepala desa nelayan, Yoo Myung-shin, untuk membantu proses evakuasi puluhan penduduk lansia di desa itu.
Go on.
OK. Jadi, pada Senin (31/3) sekitar jam 11 malam, Sugiyanto dan Kepala desa Yoo bergegas membangunkan penduduk yang sedang tidur untuk segera mengungsi. Sugiyanto memberitahukan pada para penduduk lansia bahwa pegunungan mengalami kebakaran dan semua orang harus bergegas pergi ke tempat aman. Lokasi desa yang terletak di lereng pantai cukup menyulitkan para lansia untuk lari menyelamatkan diri cepat-cepat. Melihat situasi makin genting dan mendesak, Sugiyanto dan pak kepala desa lalu menggendong para lansia di punggung. Keduanya berlari sekitar 300 meter ke arah pemecah gelombang di desa itu.
Terus semuanya selamat?
Yep, berkat upaya penyelamatan yang gesit dari Sugiyanto dan Kepala desa Yoo, semua penduduk di Desa Gyeongjeong 3-ri sebanyak 60 jiwa berhasil dievakuasi. Para warga desa yang selamat memuji aksi heroik Sugiyanto dan Kepala desa yang menyelamatkan mereka semua dari bencana. Bahkan para penduduk berharap kalau ada pemuda yang selalu bisa diandalkan seperti Sugiyanto bisa terus bekerja dan tinggal di desa mereka.
Nice bgttt, Pak Yanto!
Iya kan. Jadi, Pak Sugiyanto ini udah bekerja sebagai nelayan selama delapan tahun di Korea Selatan. Menurut pengakuannya, tiga tahun lagi dia akan pulang ke Indonesia bertemu dengan istri dan putranya yang berumur lima tahun. Bagi Sugiyanto yang mengaku menyukai Korsel, para penduduk desa sudah dianggapnya seperti keluarga. Didukung dengan kemampuan berbahasa Korea yang cukup baik, Sugiyanto terbiasa berkomunikasi dengan penduduk desa dan menunjukkan sikap yang santun terhadap warga desa. Karena jasanya menyelamatkan warga, pada Selasa (1/4), Kementerian Kehakiman Korea Selatan dilaporkan sedang dalam proses mempertimbangkan visa tinggal jangka panjang untuknya.
Gimana komentar pemerintah Korea Selatan?
Well, mereka apresiasi banget jasa Sugiyanto nyelametin warga lansia di desanya. Dalam keterangannya, penjabat Menteri Kehakiman, Kim Seok-woo, mempertimbangkan untuk memberikan visa F2 atau visa tinggal jangka panjang buat Sugiyanto. Biasanya orang-orang yang nerima visa ini adalah orang yang udah diakui sama pemerintah atas kontribusi khususnya buat Republik Korea atau kepentingan publik. FYI, visa F2 biasanya diberikan ke WNA yang menikah sama warga negara Korea Selatan. Selain itu, bisa juga diberikan ke orang yang udah berinvestasi lebih dari $500.000 dalam sebuah bisnis dan sudah tinggal di Korea Selatan selama lebih dari tiga tahun. Banyak yang bilang proses persyaratan buat dapat visa ini sangat ketat, lo.
Keren banget dong...
Iya, gaes, berkat kegercepan Sugiyanto dan Pak Kepala Desa semua penduduk aman dan nggak ada yang terluka. Menurut pejabat Kementerian Kehakiman Korea Selatan, sebelumnya pada 2020, ada kasus serupa yang melibatkan WNA yang ada di Korea Selatan. Namun, kasus pertama yang melibatkan aksi penyelamatan dari tragedi kebakaran hutan adalah kasus yang pertama kali terjadi. Lebih lanjut, urusan penetapan visa kemungkinan bakal makan waktu sekitar satu sampai dua minggu.
I see. Anything else?
Yes, ngomongin soal aksi heroik Sugiyanto, tentunya sang Istri yang ada di Indonesia juga ikut merespons juga. Dari sambungan telepon, sang istri mengaku bangga pada pengorbanan suaminya menyelamatkan warga. Sedangkan, Sugiyanto sendiri merasa terharu ketika menyadari bahwa nggak ada warga desa yang terluka akibat bencana kebakaran hutan hebat itu.