Wacana Urbanisasi ke Jakarta Setelah Arus Balik Mudik

Admin
UTC
2 kali dilihat
0 kali dibagikan

First stop, on wacana urbanisasi ke Jakarta after arus balik mudik...

The decreased trend?
Yep guys, tentunya setelah arus mudik usai, kini banyak orang fokus ke arus balik yang akan memuncak di akhir pekan pertama bulan April 2025. Jakarta masih selalu jadi primadona yang punya daya tarik bagi pendatang. Terus, gimana dengan tren urbanisasi yang diprediksi menurun selepas lebaran yang selalu terjadi di kota metropolitan ini, ya?

Tell me about it.
Well, nggak bisa dipungkiri Jakarta selalu terlihat kaya harapan dan kesempatan baru buat orang-orang dari luar Jakarta. Menyikapi hal ini, dalam keterangannya pada Kamis (27/3), Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menegaskan nggak bakal melakukan operasi yustisi buat para pendatang baru. Meski begitu, tetap akan ada pengecekan kependudukan buat warga yang bukan penduduk asli Jakarta.

Waitttt, operasi apaan tuh?
OK, let mimin explain it to you. Operasi Yustisi tuh kayak serangkaian tindakan hukum yang dilakuin pemerintah provinsi (pemprov) Jakarta dalam rangka memelihara ketertiban umum juga ketentraman masyarakat. Pada operasi ini, bakal ada juga penindakan atas dugaan pelanggaran peraturan daerah (perda) yang mengandung unsur pidana. Intinya sih adanya operasi ini bermaksud menjaga lingkungan dari potensi gangguan yang disebabkan oleh masalah kependudukan yang dipicu tingginya angka urbanisasi ke kota.

Alright. Go on...
Yep, berdasarkan prediksi dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil DKI Jakarta per 23 Maret 2025, tren pendatang baru ke Jakarta selepas lebaran bakal turun, di mana tren ini sebenarnya sudah terjadi sejak 2023. Di tahun 2022 jumlah pendatang baru tercatat 27.478 orang, turun menjadi 25.918 orang di 2023. Jumlah itu menurun lagi menjadi 16.207 orang di 2024. Sehingga pada 2025 angka pendatang baru diperkirakan turun menjadi antara 10.000-15.000 orang.

Kok tren-nya bisa turun terus?
Well, tren urbanisasi yang terus menurun pastinya dipengaruhi sama beberapa faktor, ya. Pernah denger nggak sih kalau di beberapa daerah udah mulai macet dan banyak kemajuan mirip kota besar? Nah, faktor pembangunan infrastruktur di daerah udah dirasa mulai merata di luar Jakarta. Hal ini juga didorong sama perekonomian nasional yang (KATANYA) konsisten tumbuh lebih dari 5% sejak 2022. Dan ada juga faktor menurunnya tingkat pengangguran sampai 4,91% di Agustus 2024. Selain itu, imbauan agar orang daerah nggak nekat merantau ke Jakarta tanpa jaminan tempat tinggal atau pekerjaan layak disebut memengaruhi juga menurunnya tren pendatang ke Jakarta selepas lebaran.

Kenapa kok ngaruh?
Ya, coba aja bayangin, gaes, kalau nggak ada jaminan tempat tinggal sama pekerjaan yang layak, hidup tentunya bakal kerasa lebih tough di Jakarta. Dampaknya bisa bikin orang terpaksa harus tinggal di permukiman kumuh dan bahkan luntang-lantung di jalan. Kemiskinan dan ketidakpastian nasib buat bertahan hidup bakalan bikin orang jadi nekat dan berakhir memilih jalan pintas dengan melakukan tindakan kriminal.

I see...

Yep, seperti yang disampaikan juga sama Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar a.k.a Cak Imin, beliau mengimbau supaya jangan sampai para perantau tergiur datang ke Jakarta tanpa persiapan. Karena dikhawatirkan bukannya memperbaiki nasib, tapi kedatangan para pendatang itu malah bisa menambah beban Jakarta dengan segala carut marut permasalahan kotanya...

Hmm... terus langkah Pemprov Jakarta gimana?
Tahun ini, Pemprov Jakarta bakal menyediakan balai latihan kerja (BLK) dan balai rakyat buat mempersiapkan kualitas dan kemampuan bahasa para calon pencari kerja. Selain itu, ternyata program mudik bersama juga dipakai Pemprov Jakarta sebagai salah satu antisipasi buat mengukur angka urbanisasi ke Jakarta tahun ini. Menurut Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno, paket mudik bersama Pemprov Jakarta yaitu pulang-pergi atau pergi-pulang Jakarta memfasilitasi hampir 26 ribu pemudik.
Paket mudik?
Yep. Adanya paket mudik ini akan dipakai jadi salah satu tolok ukur kepadatan urbanisasi yang bakal terjadi tahun ini. Meski begitu, jumlah di luar paket mudik yang disediakan Pemprov tetap nggak bisa diperkirakan, ya. Mudik dengan moda transportasi lain tetap mungkin membawa pendatang baru berupa sanak saudara dari para pemudik yang kembali ke Jakarta.

Terus apa kata pakar soal ini?

Menurut ahli tata kota, Nirwono Yoga, Jakarta selalu jadi daya tarik dan magnet bagi para pendatang karena Jakarta masih jadi pusat ekonomi nasional. Orang-orang yang bisa bekerja dan survive di Jakarta berarti orang yang sukses karena bergaji tinggi. Tren menurunnya urbanisasi ke Jakarta sebenarnya karena para pendatang beralih ke kota-kota satelit di sekitar Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Di sisi lain, guru besar sosiologi UI, Paulus Wirotomo, menyatakan harapannya agar tren ini terus berlanjut ke depan. Harapannya supaya masyarakat urban bisa lebih menyebar ke kota-kota kecil yang punya potensi dan nggak hanya terpusat di Jakarta saja.

I see. Anything else?
Yes, libur Lebaran masih tersisa, namun arus balik mudik sudah terlihat di Terminal Kampung Rambutan di Jakarta Timur. Menurut Pengendali Terminal Kampung Rambutan, Mulyono, arus balik mudik penumpang dengan bus antar kota antar provinsi (AKAP) sudah terlihat sejak Selasa (1/4) atau H+1 Idulfitri. Per Selasa (1/4), ada 1.667 penumpang yang menggunakan 234 bus AKAP yang tiba di Terminal Kampung Rambutan. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat mendekati habisnya waktu cuti bersama lebaran pada Senin (7/4). The end of the long holiday is coming for real...

© 2025 Catch Me Up!. All Rights Reserved.