Suara Ibu Indonesia Ikut Aksi Tolak UU TNI

Admin
UTC
7 kali dilihat
0 kali dibagikan

Ketika ras terkuat di muka Bumi sudah ikut turun ke jalanan...

The real deal.

Guys, pernah bayangin nggak sih ketika perjuangan kelas udah melibatkan ibu-ibu? Keprihatinan dan kepiluan atas aksi represif aparat terhadap mahasiswa dan masyarakat lahir sebagai bentuk penolakan terhadap UU TNI yang baru disahkan.

Tell me about it.

Yep, aksi represif aparat udah terjadi jauh sebelum UU TNI disahkan. Pada Kamis (27/3), terjadi berulang kali kekerasan pada kelompok sipil yang melakukan aksi penolakan atas UU TNI di berbagai kota, mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya, juga Malang. Tuntutan dilayangkan pada Presiden Prabowo untuk segera membatalkan UU TNI hasil pengesahan DPR pada Kamis (20/3).

Terus…terusssss

So, dalam momentum aksi yang diselenggarakan di depan Gedung Sarinah, Jl. Thamrin pada Jumat (28/3), penggagas Suara Ibu Indonesia yang juga  arsitek dan penulis, Avianti Arman  menyatakan bahwa inisiatif Suara Ibu Indonesia digagas karena ada keinginan untuk melindungi mahasiswa yang berdemo menolak pengesahan UU TNI oleh DPR serta mengecam kekerasan aparat. Nah, ibu-ibu yang melakukan aksi juga menyerukan hal yang sama dengan penolakan para mahasiswa, yaitu menolak adanya dwifungsi TNI.

Apa sih yang disuarakan?

Well, dalam aksi protes tersebut, para ibu meminta agar TNI tetap sesuai dengan fungsi dan tugasnya sebagai penjaga keamanan negara. Hal itu selaras dengan UU 34 Tahun 2004 yang menyebut kalau tugas pokok TNI mulai dari menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI, juga tentunya nggak balik lagi buat berkecimpung di ranah politik dan bisnis seperti pada era Orde Baru a.k.a Orba.

Terus apa saja tuntutan aksinya?

OK. Jadi, tuntutan para ibu yang tergabung dalam aksi Suara Ibu Indonesia ada tiga. Pertama, stop kekerasan pada mahasiswa. Kedua, batalkan UU TNI, dan Tolak RUU Polri. Ketiga, mengembalikan tentara ke tugas utamanya membela tanah air dan polisi ke tugas utamanya melindungi masyarakat, bukan membela segelintir elite pejabat. Catat!

Okay! Apa isi teks yang disebarkan selama aksi?

Nah, aksi ini juga diwarnai dengan teks yang disebarkan pada para peserta, di dalamnya meliputi keprihatinan para ibu di berbagai daerah untuk Indonesia yang lebih baik dan generasi anak-anaknya. Ibu-ibu yang ikut aksi bilang, mereka nggak rela kalau masa depan anak-anak dirampas oleh elite pejabat yang maruk alias serakah. Selain itu, ibu-ibu juga mengecam kekerasan aparat pada anak-anak juga tenaga medis yang sedang berjuang menegakkan demokrasi. Mereka menuntut agar anak-anak dilindungi selama beraspirasi dan berjuang di jalur demokrasi. Para ibu juga berikrar mendampingi turun ke jalan, berjuang bersama anak-anak bangsa.

Cool. Gimana pendapat para tokoh yang hadir?

Well, meski situasi di negara kita sekarang diwarnai banyak protes atas kebijakan pemerintah yang dinilai melawan arah demokrasi, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Sulistyowati Irianto bilang bahwa Indonesia selalu berhasil keluar dari situasi krisis. Hal itu nggak lepas dari pergerakan mahasiswa yang nggak pernah absen jadi motor perubahan. Meanwhile, filsuf Karlina Supelli, penggagas gerakan Suara Ibu Peduli pada 1998, turut menyambut baik inisiatif dari Suara Ibu Indonesia. Gerakan Suara Ibu Indonesia terinspirasi dan merujuk ke sejarah Suara Ibu Peduli yang terbentuk sebelum reformasi juga gerakan Kamisan yang digagas oleh Sumarsih Maria sejak 18 tahun lalu. In case you didn't know, Ibu Sumarsih adalah ibunda Wawan, salah satu korban tertembak dalam Tragedi Semanggi I pada 13 November 1998.

Kaya apa gerakannya?

Well, kamu perlu tahu kalau aksi demo ibu-ibu ini merupakan aksi damai yang mengawali perjuangan kaum perempuan Indonesia untuk melindungi dan mendampingi mahasiswa dalam penolakan terhadap UU TNI. Aksi damai ini bakal berlanjut dengan kolaborasi dengan komunitas juga lembaga-lembaga lain yang sudah terlibat dengan berbagai fokus. Furthermore, menurut Guru Besar FIB UI dan budayawan, Melani Budianta, 27 tahun lalu anaknya juga melakukan aksi yang sama untuk menentang dwifungsi ABRI. Kini Ibu Melani masih melakukan hal serupa karena prihatin sama situasi sosial yang terjadi di Indonesia belakangan.

I see. Anything else?

Well, you know, kalau ibu-ibu udah sampai ikut turun ke jalan, artinya apa? Yak, berarti situasi negara lagi gak baik-baik aja, ygy. Udah naluriah buat para perempuan yang ingin melindungi keluarga termasuk anak-anak yang dicintainya. Dalam situasi yang genting, ibu bakal jadi pihak yang bersedia ‘pasang badan’ buat jadi tameng pelindung anak-anaknya. Dalam keterangannya, Avianti menyatakan harapannya bahwa dengan melalui keterlibatan para ibu dalam demo menolak UU TNI bisa menggugah hati para ibu lain di seluruh Indonesia dan tentunya berdampak dalam mendorong pembatalan UU TNI.

© 2025 Catch Me Up!. All Rights Reserved.