Pertama Kalinya Tingkat Kesuburan di Korsel Meningkat

Admin
UTC
7 kali dilihat
0 kali dibagikan

About the rise of South Korea's birth rate for the first time...

In nine years.
Guys, mungkin kamu udah tahu kalau Korea Selatan or Korsel adalah negara dengan tingkat kelahiran paling rendah di dunia. Tapi, pada Rabu (26/2), tingkat kesuburan atau fertility rate di Korsel meningkat pertama kalinya sejak sembilan tahun terakhir pada 2024. The reason behind that adalah angka pernikahan tertunda yang meningkat akibat pandemi COVID-19.

Really?
Yep, pemerintah Korsel juga bukan yang diem-diem aja merespons angka kelahiran yang terus menurun di negaranya. Pemerintah Korsel bahkan bikin kebijakan buat kasih insentif pada perusahaan dan masyarakat supaya generasi produktif mau jadi orang tua. Selain insentif pemerintah, banyak perusahaan yang ikut ngasi bonus buat karyawannya yang mau melahirkan.

 
Why do they refuse to have kids?
Well, Korsel dikenal sama etos kerja yang gila-gilaan. Kamu mungkin pernah denger fenomena gwarosa a.k.a meninggal karena terlalu capek kerja? Nah, di Korsel orang-orangnya yang super workaholic, gaes. Banyak orang yang fokus ngejar karier sama pencapaian daripada menikah atau jadi orang tua. Bukannya tanpa alasan, di Korea biaya perumahan sama biaya ngebesarin anak gede banget, sampai buat bayangin ngebangun keluarga aja di sana pada ogah.

Separah itu???
Yep, efeknya ya sampai terjadi krisis demografi di Korsel. Sejak 2015, angka kelahiran ada di 1,24 dan terus menurun selama delapan tahun terakhir sampai menjadi 0,72 di 2023. Barulah pada 2024, tingkat kesuburan Korsel mulai meningkat menjadi 0,75. FYI, buat jaga populasi sebuah negara, angka kelahiran idealnya yaitu 2,1 anak per wanita. Jadi tadi peningkatanny masih rendah banget, namun udah cukup jadi kabar gembira buat pemerintah yang udah bikin kebijakan menggelontorkan dana sampai miliaran dolar buat mengatasi krisis demografi ini.

Pemerintah Korsel ngapain aja, tuh?
Well, kebijakan pemerintah Korsel terbagi dalam tiga bidang, di antaranya keseimbangan pekerjaan-keluarga, perawatan anak, sampai perumahan. Bahkan pemerintah berencana buat membelanjakan sekitar 19,7 triliun won atau setara US$13,76 miliar buat mendukung tiga bidang itu. Pemerintah membolehkan ibu hamil buat bekerja dengan pengurangan jam kerja. Selain itu, pemerintah juga meningkatkan jangka waktu cuti ayah menjadi 20 hari supaya bisa ikut merawat anak di rumah.

Apa respons pakar soal fenomena ini?
Yep, menurut profesor demografi dan sosiologi dari Sekolah Kebijakan dan Manajemen Publik Kota Sejong, Choi Seulki, kenaikan angka kelahiran di Korsel ini adalah kabar gembira yang harus disambut baik. Realitanya naikin angka kelahiran di Korsel tuh ngga gampang karena jumlah penduduk lansianya lebih banyak daripada penduduk muda. Banyak ahli kependudukan yang memprediksi kalau penurunan angka kelahiran bakal mengurangi mengurangi separuh jumlah penduduk yang disensus pada 2100 mendatang. Sedangkan, menurut profesor kesejahteraan sosial di Seoul Women's University, Jung Jae Hoon, perusahaan juga punya tanggung jawab juga buat mendukung kebijakan pemerintah dalam mengatasi krisis demografi nasional.


I see. Anything else?
Yes, belakangan ini, kasus krisis demografi yang menurun nggak hanya ditemukan di Korsel, tapi di hampir berbagai belahan dunia. Ada juga China dan Jepang yang kasusnya mirip-mirip, dan Indonesia juga yang angka kelahiran barunya terus menurun belakangan ini. Kalo udah kayak gini, biasanya kebijakan pemerinyah untuk mendorong peningkatan jumlah anak yang baru lahir jadi sangat penting, supaya kelompok usia produktif mau punya anak dalam kondisi ekonomi kayak saat ini.

Β© 2025 Catch Me Up!. All Rights Reserved.