First stop, let's get you updated on: Dokter PPDS Undip case....
Trigger warning. This content contains suicide, bullying, and deppresion which could be unsettling for some readers. Proceed with cautions!
I am ready, Tell. Me. Everything.
So, you have heard the news, rite? Over the weekend kemaren, netizen seluruh Indonesia rame banget ngomongin tewasnya seorang dokter PPDS aka dokter residen (Dokter umum yang lagi sekolah spesialis) di jurusan anestesi Universitas Diponegoro, Semarang, dokter Aulia Risma Lestari namanya. Dari keterangan awal polisi, dokter Risma diduga bunuh diri gara-gara perlakuan bullying yang Ia terima dari senior-seniornya. Tapi hal itu kemudian dibantah tegas oleh pihak kampus, bahkan keluarganya. More on those, scroll down.
What happened?
Jadi, Senin 12 Agustus lalu, Dokter Aula Risma Lestari yang lagi sekolah PPDS Anestesi di Undip ditemukan tewas di kosannya di daerah Gajahmungkur, Semarang, Jawa Tengah. Dari keterangan polisi, Kapolsek Gajahmungkur, Kompol Agus Hartono menyebut Aulia ditemukan dalam kondisi biru-biru di sekitar wajah dan pahanya. Aulia diduga nyuntikin sendiri obat penenang ke dalam tubuhnya. In that sense, Aulia diduga tewas bunuh diri.
:(((((
Wait until you hear about: Di TKP, polisi menemukan diary-nya Aulia. Di situ terungkap struggle-nya dia selama kuliah kedokteran, termasuk urusan sama senior-seniornya. In his words, Kompol Agus menyebut, "Ibunya memang menyadari anak itu minta resign, sudah enggak kuat. Sudah curhat sama ibunya, satu mungkin (karena) sekolah, kedua mungkin menghadapi seniornya. Seniornya itu kan perintahnya sewaktu-waktu minta ini dan itu, keras…” katanya.
Sad banget :(
Yep. Berangkat dari penemuan ini, Polrestabes Semarang masih terus mendalami motif di balik kematian Aulia. Kapolrestabes Semarang, Kombes Irwan Anwar menyebut pihaknya masih nge-make sure apakah diary di TKP itu bener tulisannya Aulia atau bukan. Makanya mereka langsung cusss pergi ke Tegal untuk ketemu keluarga Aulia. Intinya, Kombes Irwan bilang begini, “Belum ada fakta atau bukti yang mengatakan korban ini meninggal bermotifkan perundungan. Sebaliknya, tidak ada bukti atau keterangan yang mengarah kematian bukan karena perundungan. Nah, itu masih kita dalami."
So, how did that go with the family?
Let’s go to Tegal, Jawa Tengah. Di sana, pihak keluarga justru bilang Aulia nggak meninggal karena bunuh diri, tapi sakit. Yep, you heard it right. Dari keterangan kuasa hukum keluarga, Susyanto, Aulia itu riwayat penyakit saraf kejepit, guys. Jadi kalau kecapekan tuh gampang sakit gitu lo. That being said, pihak keluarga menduganya Aulia ini kemaren emang kecapekan terus lagi dalam keadaan darurat. Jadinya nyuntikin sendiri anestesinya tapi turned out overdosis. “Intinya dari keluarga menampik berita bahwa korban meninggal dunia karena bunuh diri," kata Susyanto.
Okay….
The same thoughts were also spoken by pihak kampus. Dalam keterangan tertulis yang beredar Kamis kemaren, Rektor Universitas Diponegoro Prof. Suharmono, menyatakan mahasiswa mereka Dokter Aulia Risma Lestari ini punya masalah kesehatan. Jadi program belajarnya di PPDS Anestesi jadi keganggu, katanya gitu. Lebih jauh, gara-gara kondisi kesehatannya itu, Prof. Suharmono juga menyebut Aulia ini sempat mau resign, guys. Tapi since dia awardee beasiswa, jadi nggak bisa resign. In that sense, Undip menyatakan Dokter Aulia meninggal bukan gara-gara bullying. FK Undip pun menegaskan mereka udah menerapkan ‘zero bullying’ sejak beberapa waktu lalu.
So, where are we going from here?
Sampai berita ini ditulis, kasus kematian Dokter Aulia masih terus diusut oleh berbagai pihak, termasuk oleh Kementerian Kesehatan. Adapun dalam keterangannya Kamis lalu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut pihaknya udah koordinasi sama Polri untuk investigasi. Secara kalau dari pov Kemenkes, dugaan bunuh diri itu emang udah ditemukan.
HMMM….
In that sense, Pak Budi bilang PPDS Anestesi di Undip, yang tugas di RSUP Kariadi itu harus dievaluasi. In his words, Pak Budi juga menyampaikan, “Tidak ada lagi perilaku-perilaku bullying seperti ini dengan alasan menciptakan tenaga yang tangguh, menciptakan tenaga yang tidak cengeng. Kita bisa menciptakan tenaga yang tangguh tidak cengeng tanpa menyebabkan mereka mati." Jadi, selama investigasi berlangsung, pihak Kemenkes resmi menyetop Program Studi Anestesi di FK Undip. Pemberhentian ini disebut berlangsung sampai investigasi kelar dan ada langkah-langkah yang bisa dipertanggungjawabkan oleh RSUP Kariadi dan FK Undip.
Got it. Now wrap it up….
Anyways, let’s talk about bullying. Kamu harus tahu bahwa di media sosial, belakangan ini rame banget para netizen nge-spill kejamnya PPDS Anestesi Universitas Diponegoro ini, guys. Terutama, beban kerjanya yang dianggap terlalu berat. Ikatan Dokter Indonesia juga nggak denial emang masih ada bullying di lingkungan PPDS, guys. Wakil Ketua Umum IDI, Slamet Budiarto bahkan bilang, “Bullying masih ada… Ya namanya manusia” (???) Makanya nggak heran banyak residen yang mengalami stres bahkan sampai depresi. Di awal tahun ini, Ikatan Dokter Indonesia lewat surveinya juga menyatakan 2.000++ dokter residen mengalami gejala depresi, di mana 75 orang-nya dinyatakan depresi berat.