Gempa Bumi di Myanmar dan Thailand

Admin
UTC
6 kali dilihat
0 kali dibagikan

Now, on Myanmar and Thailand's massive earthquake...

that resulted in more than 2,000 deaths.
Guys, over the weekend kemarin, negara tetangga kita yakni Myanmar dan Thailand baru aja mengalami bencana gempa. Tepatnya pada Jumat (28/3), sebuah gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7.7 mengguncang Myanmar. Saking kuatnya gempa itu, getarannya terasa sampai ke Thailand dan China.

:( Tell me more...
Jadi, gempa dahsyatnya terjadi sekitar jam 13.20 WIB dengan episenter gempanya ada di kedalaman 10 km, dekat kota Mandalay. Dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (28/3), Direktur Gempa Bumi BMKG, Daryono, menyatakan bahwa dilihat dari lokasi dan kedalaman episenternya, gempa bumi yang terjadi di Myanmar termasuk dangkal dengan mekanisme mendatar atau strike-slip. Akibat gempa ini, Junta Militer Myanmar dan PM Thailand mendeklarasikan status darurat per Selasa (1/4).

How about the victims?

Hingga saat ini, jumlah korban tewas di Myanmar mencapai 2.719 orang sedangkan korban lukanya berjumlah 4.512 orang. Lalu, jumlah orang yang dinyatakan hilang dalam tragedi gempa bumi dahsyat ini sebanyak 441 orang. Sedangkan, di Bangkok setidaknya 18 orang tewas, 32 orang luka-luka, juga 83 masih hilang dan belum ditemukan.

Gimana respons pemerintahnya?
Setelah gempa, junta militer Myanmar mendeklarasikan masa berkabung selama seminggu sejak Senin (31/3). Selain itu, bendera nasional akan dikibarkan setengah tiang sampai Minggu (6/4). Meanwhile, hingga saat ini warga Myanmar mengaku belum dapat bantuan apa pun dari pemerintah setelah mengalami gempa itu. Sampai hari Minggu (30/3), sejumlah warga di daerah yang terdampak parah menyatakan kalau bantuan dan tim penyelamat masih sangat terbatas sampai warga harus cari bantuan sendiri.

Hadeh Myanmar nih...
Emang, ga abis-abis krisisnya. Jadi sejak Junta Militer berkuasa di sana pada 2020 lalu, Myanmar masih mengalami perang sipil antara junta militer dan warga. Selepas gempa terjadi, National Unity Government of Myanmar (NUG) a.k.a kelompok anti junta menyerukan gencatan senjata selama dua minggu mulai Minggu (30/3). Selama gencatan senjata berlangsung, NUG menuntut junta buat ngejamin keselamatan dan nggak menangkap para petugas penyelamat.

Kok tau-tau gencatan senjata?
Yep, gilanya tuh di hari yang sama gempa terjadi, junta militer dilaporkan menjatuhkan bom di Naung Cho, Negara Bagian Shan yang menewaskan tujuh orang. Serangan ini lalu mendapat kecaman dari PBB. Dalam keterangannya pada BBC, pelapor khusus PBB untuk Myanmar, Tom Andrews, menyatakan kalau apa yang dilakukan Junta betul-betul keterlaluan dan nggak bisa diterima. Situasi yang chaos di Myanmar ini juga nggak bisa diliput oleh wartawan asing. Pihak Jubir Junta, Zaw Min Tun, menyatakan kalau larangan peliputan ini berkaitan sama situasi Myanmar yang nggak kondusif karena pasokan air, listrik, dan akomodasi yang terbatas.

I see...
Selanjutnya, yang harus kamu tahu adalah menurut Data Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa susulan bermagnitudo 6,4 SR tercatat 12 menit setelah gempa pertama di lokasi terdekat berjarak 60 kilometer. Tak hanya di Myanmar, kekuatan gempa bisa terasa sampai ke wilayah Tengah dan Utara Thailand juga provinsi Yunnan barat daya di China.
Geez....
Terus ya guys, berdasarkan data USGS, gempa bumi adalah bencana yang cukup umum terjadi di Myanmar, khususnya di dekat Sesar Sagaing antara tahun 1930-1956. FYI, Sesar Sagaing udah lama dianggap sebagai sesar geser paling berbahaya di Bumi karena dekat dengan kota-kota besar di Myanmar, seperti Yangon dan Mandalay.

Jadi wilayah itu rusak banget?
Yep. Dari laporan warga, banyak dinding dan langit-langit bangunan di Myanmar yang berjatuhan. Selain itu, jalanan juga retak dan jembatan di Jalan Tol Yangon-Mandalay dan jembatan Ava di atas Sungai Irrawaddy runtuh dan hancur. Sedangkan di Bangkok sebuah gedung pencakar langit 30 lantai yang sedang dalam pembangunan collapsed. Berdasarkan laporan dari Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana Thailand, gempa bumi dahsyat ini merusak infrastruktur di 18 provinsi yang ada di Thailand, sekitar 420 rumah, 48 kuil, 76 rumah sakit, dan puluhan bangunan sekolah dan kantor pemerintah mengalami kerusakan.

Bangunan runtuhnya sus banget...
Rite. That's why pemerintah Thailand akhirnya memutuskan penyelidikan ke gedung pencakar langit yang runtuh itu. Jadi guys, PM Thailand Paetongtarn Shinawatra udah memerintahkan Menteri Dalam Negerinya Anutin Charnvirakul, membentuk komite khusus buat menyelidiki insiden itu selama seminggu. Komite itu terdiri dari para ahli seperti insinyur dari Departemen Pekerjaan Umum dan Perencanaan Kota dan ahli lainnya. Selain itu, pemerintah China juga disebut ikut mengirim seorang ahli untuk memeriksa lokasi runtuhnya bangunan tersebut.

Have the victims received any help, though?

Well, tentunya negara lain langsung gercep mengirim bantuan, termasuk negara kita. Beberapa negara lain seperti Amerika Serikat, China, Hongkong, Inggris, Selandia Baru, Malaysia, Vietnam sampai Korea Selatan juga ikut kirim bantuan ke Myanmar. Adapun bantuan ini berupa dana kepada Palang Merah Internasional, tim medis dan penyelamat, juga bantuan kemanusiaan dan logistik. 

OK...

Menurut keterangan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, Indonesia mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk korban gempa bumi di Myanmar menggunakan Dana Siap Pakai (DSP) yang distribusinya disesuaikan sama perkembangan situasi di lapangan. Bantuan kemanusiaan dari Indonesia untuk Myanmar akan diberangkatkan bertahap mulai dari Senin (31/3) sampai Kamis (3/4).

I see. Anything else?
Yes, pihak Kemlu udah berkoordinasi sama KBRI Yangon dan KBRI Bangkok untuk memastikan para WNI di dua negara tadi aman-aman aja. Dalam keterangan pers-nya pada Sabtu (29/3), Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu RI, Judha Nugraha, mengungkapkan bahwa ada 250 orang WNI di Myanmar dan 2.379 WNI berada di Thailand. Dua KBRI di Myanmar dan Thailand mengimbau pada para WNI tetap waspada risiko gempa susulan dan segera menghubungi hotline KBRI jika berada di kondisi darurat.

© 2025 Catch Me Up!. All Rights Reserved.